Sekarang dia tertidur. Kenyang sehabis makan bubur di hari keduanya. Bubur yang disuapkan campuran beras merah plus ASI, ASI yang diperah manual, yang sedikit sekali hasilnya. Maunya ASI yang keluar bisa mancur-mancur tapi ini justru hanya sekedar tetesan-tetesan. Masih lebih deras kalau saya menangis.
Azka Naifah Mazaya nama anak pertama saya. Dia cantik sekali. Ini bukan gombalan atau manipulasi kata-kata dari ummi yang lagi girang-girangnya punya anak. Azka memang cantik. Dia lahir enam bulan yang lalu, tanggal 26 Sya'ban 1434 H jam 21:35 waktu Makassar, empat hari sebelum sahur pertama Ramadhan.



untuk mahasiswa di fakultas saya yang sedang menyusun skripsi

Gambar Apa Ini?

Pelangi, Laut, Langit.



Pelangi terlukis indah karena ketujuh warnanya, bukan karena warna ketujuhnya. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Mereka terbentuk dan tersusun indah karena... Entahlah. Lupa. Mungkin saja mereka terbentuk dan tersusun karena cat di surga sedang luntur, sedang mencair, karena terkena air hujan. Lalu ketika cat itu pun mengering karena sinar matahari menempa cat-cat itu, maka ketika itulah Pelangi terhias di Langit. Mungkin saja.

Kenapa tidak terpikir untuk belajar banyak bak Pelangi, yang punya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Mereka kompak. Yakin, mereka saling merangkul satu sama lain. Tak rela melepas yang di sampingnya. Coba pikir, apa jadinya jika tak terlukis kuning di sana? Bisa jadi Si Hijau atau Si Jingga tak dikenal oleh penghuni bumi. Dan pikir lagi, bagaimana jadinya jika air hujan tak diizinkan sedikit pun untuk membelai cat di surga? Mungkin tak ada Pelangi. Belajar bak Pelangi tak ada salahnya. Hidup itu memang penuh warna.

Lantas dimana Pelangi akan bertengger jika Langit tak ada?

Langit. Seseorang pernah berkata kalau Langit itu tidak. Langit itu hanya sebuah istilah yang merepresentasikan batas pandang. Untuk sekian meter, warnanya biru muda. Dan jika lebih dari sekian meter, warnanya mendekati putih. Semakin jauh, semakin putih. Tapi buatku, langit itu ada.

Langit itu bak jalan yang tak henti. Tangannya membentang begitu luas. Tapi, jangan takut untuk bermain dengannya. Jika tak suka dengan warnanya, jangan jadikan masalah. Boleh jadi ia sedang terpesona oleh keelokan Sang Laut. Tidakkah Langit dan Laut itu bak sepasag kekasih yang sedang dimabuk cinta? Sama-sama biru. Sama-sama luas. Sama-sama indah. Bisa jadi mereka memang sepasang kekasih yang tak henti untuk saling cinta meskipun mereka tak mampu saling memeluk. Jadi selama Laut itu ada, Pelangi tak perlu cemas untuk mencari tempat bertenggernya, Langit.

Langit dan Laut. Ah, romantis nian mereka. Tak ada ruginya belajar dari Langit dan Laut ketika mulai bosan dengan kisah romantisme Romeo-Juliet.

24062011—10:57pm.

Selalu Ada Jawaban

Ketika kita mengeluh: “Tak mungkin”,

Allah menjawab: “Jika Allah menghendaki sesuatu, cukup berkata jadi, maka jadilah...” (QS. Yasin: 82)


Ketika kita mengeluh: “Aku tak mampu”,

Allah menjawab: “Allah tidak membebankan sesuatu pada seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya...” (QS. Al Baqarah:286)


Ketika kita mengeluh: “Aku stress”,

Allah menjawab: “Hanya dengan mengingat Allah hati jadi tenang...” (QS. Ar-Ra’du: 28)


Ketika kita menggerutu: “Tak ada gunanya”,

Allah menjawab: “Maka barangsiapa mengerjakan amal kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasan kebaikannya...” (Al-Zalzalah:7)