Ini Bukan Nostalgia

Pernah merasa begitu rindu akan kejadian-kejadian yang membuat kita merasa bahagia? Atau berharap kejadian tersebut terulang lagi atau mungkin diri kita dikembalikan ke saat itu? Saat merasa sendiri, bosan, suntuk, ide tak bermunculan, atau baru-barusan bernostalgia bersama foto-foto beberapa tahun silam, adalah penunjang bagi indra "keinginan" kita untuk merasa gembira.

Mungkin ada yang pernah merasakan nikmatnya bermain seluncuran air bersama saudara ketika berusia delapan atau sembilan tahun? Atau mungkin main petak umpet saat jam tidur siang? Lalu sejam kemudian foto keluarga mengintip kita dari "album foto" berwarna hijau muda bergambar burung camar. Di foto itu ada mereka, saudara-saudara kita dengan wajah pogu (polos campur lugu), seorang ibu yang walaupun ia tak cantik tapi tak bosan ia dipandang, dan mereka-mereka yang lain. Mari kita sejenak melangkah mundur, mengingat foto teman sepermainan.

Di foto, mereka nampak tak punya dosa, walaupun pernah buat salah, pernah menjadi subjek cakaran kita. Pernah bersama mereka bermain kelereng, rumah-rumahan, masak-masakan, bom-boman. Lalu mandi bersama. Satu bak diisi dengan busa sabun, seolah-olah berendam bak orang kaya di tv.

Saling berebut khayalan untuk masa depan, saling mengejek hasil khayalan satu sama lain. Saling menertawai keanehan satu sama lain. walaupun itu aneh, namun kini itu indah.

Bersyukur ada sebuah benda bernama kamera yang menyempatkan kita sejenak bernostalgia. Mereka, teman mandi kita di kala kecil, kini telah memilih pacarnya untuk menghabiskan malam minggunya. Tak apa, kelak suatu saat, anak-anak kita bersama sepupu-sepupunya yang akan menggantikan keindahan "masa kecil" kita.

Walaupun itu aneh, namun kini itu indah.

Bukan hanya aku, kau pun merasa demikian kan?

Siapa yang Salah?

Minus empat hari di pelayanan pelanggan. Sebagai seseorang yang duduk di pelayanan pelanggan, sudah sepatutnya senyuman dan keramahan adalah suguhan primer bagi para pelanggan yang berdatangan.

Sebelumnya saat saya ada di posisi sebagai seorang konsumen, jangan sekali-kali memajang wajah kusam atau seolah-olah saya ini “tak berharga untuk diberi senyum”. Di bangku kuliah, di buku-buku teks perihal marketing, atau teori apapun itu perkara pelayanan, telah saya akui bahwa keramahan adalah harga mutlak dan berhak diterima pelanggan. Saya merasa tidak puas ketika mereka—para pelaku pelayanan—tidak ramah ketika saya mendatangi mereka. Tapi ini, kali ini, ketika saya yang duduk di bangku pelayanan pelanggan, sayalah yang sedikit menyuguhkan senyum itu. Tak bermaksud tak menghargai sejujurnya, tapi lebih kepada lelahnya badan dan pikiran ini. Pelanggan satu belum rampung ku tuntaskan urusannya, muncul lagi pelanggan satunya lagi dengan sederet tanya yang ia lontarkan. Iya, tidak ada nomor antrian di situ, tapi tak berarti mereka, para pelanggan, tak hiraukan kesibukanku melayani sesamanya. Ayolah, sekiranya kita bisa saling memahami di sini.

Benar juga yang dikatakan salah seorang dosen pengajarku, budaya orang Indonesia ternyata harus dibenahi seutuhnya, seluruhnya. Di tangan ia menggemgam IPAD, namun tak bisa baca tulisan “ANTRI”.

Mereka, para pelanggan, tidak serta-merta salah sepenuhnya. Jika hati ini bisa lebih bisa ku tahan untuk tidak termakan emosi, mungkin mereka yang ku beri kesan “jutek” justru menerima senyum. Saya yang salah, saya kurang paham apa itu ramah. Maafkan saya.

25.04.2011 – 18:56 PM

Not For Sale


oleh: Hildiarti W

Tombo Ati

Tombo Ati iku limo perkorone. Kaping pisan moco Qur’an lan maknan. Kaping pindo sholat wengi lakonono. Kaping telu wong kang sholeh kumpulono. Kaping papat kudu weteng ingkang luwe. Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe. Salah sawijine sopo iso ngelakoni, mugi-mugi Gusti Allah nyembadani.

Obat Hati ada lima perkaranya
. Yang pertama baca Qur’an dan maknanya. Yang kedua sholat malam dirikanlah. Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh. Yang keempat perbanyaklah berpuasa. Yang kelima dzikir malam perbanyaklah. Salah satunya siapa bisa menjalani, moga-moga Gusti Allah mencukupi

(amin)

Kulit Mangga Mampu Atasi Cacingan


4.bp.blogspot.com

Kulit mangga bisa atasi cacingan. Kok bisa?

Tadi saya buka halaman situsnya Media Indonesia, trus ada artikel bertuliskan "Kulit Mangga Ampuh Obati Cacingan". Di artikel tersebut, yang diposkan oleh Prita Daneswari pada 26 Maret 2011, menjelaskan kalau daya anthelmintik pada kulit mangga membantu mencegah penyakit cacing untuk anak-anak, anthelmintik juga sangat ampuh untuk membunuh kuman dan bakteri dalam perut.

Lantas gimana cara mengkonsumsi kulit mangga tersebut?
Seperti yang tertulis dalam artikel tersebut, rebus kulit mangga selama 15 menit. Zat anthelmintik yang ada di kulit mangga akan keluar. Lalu ambil air rebusan kulit mangga dan taruh ke gelas untuk diminum. Nah, rebusan kulit mangga ini sangat ampuh membunuh bakteri jahat di dalam perut.

Sebagai tambahan pengetahuan lagi, Kulit mangga pun ternyata bisa digoreng. Kulit mangga yang digoreng merupakan obat yang mujarab untuk pendarahan yang berlebihan selama haid. Gimana cara gorengnya? Sederhana saja. Ambil kulit mangga yang masih hijau warnanya lalu goreng dalam minyak yang sudah panas. Setelah masak, makanlah, ulangi sampai pendarahan berkurang.

Tidak ada yang sia-sia ya di dunia ini? Sang Khalik menciptakan segalanya dibarengi dengan khasiat. Adalah tugas kita untuk menguak segala khasiat yang belum terungkap. Dan kita gunakan untuk kebahagiaan bersama. So, alhamdulillah buat ciptaan-Nya.